PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN

May 31st, 2008

A. PENDAHULUAN
Untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi masyarakat pemakai, perpustakaan harus mampu (1) mengkaji/mengenali siapa masyarakat pemakainya dan informasi apa yang diperlukan, (2) mengusahakan tersedianya jasa pada saat diperlukan, serta (3) mendorong pemakai untuk menggunakan fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan. Analisis pemakai dan kebutuhan pemakai ini ditujukan untuk pengembangan koleksi perpustakaan demi tersedianya kebutuhan informasi yang benar-benar mutakhir dan relevan.
Pengembangan koleksi dimaksudkan untuk membina sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi perpustakaan dan masyarakat yang akan dilayani. Pengembangan koleksi merupakan serangkaian proses atau kegiatan yang bertujuan mempertemukan pemakai dengan rekaman informasi dalam lingkungan perpustakaan atau unit informasi. Kegiatan pengembangan koleksi mencakup, antara lain penyusunan kebijakan pengembangan koleksi, pemilihan, pengadaan, serta deseleksi.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Pembinaan dan pengembangan koleksi memfokuskan pada empat aspek utama di antaranya :
1. Kebijakan pengembangan koleksi
Pengembangan koleksi merupakan proses memastikan bahwa kebutuhan informasi dari para pemakai akan terpenuhi secara tepat waktu dan tepat guna dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang dihimpun oleh perpustakaan. Sumber-sumber informasi tersebut harus dikembangkan sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi perpustakaan dan masyarakat yang dilayani.
Kebijakan pengembangan koleksi merupakan alat perencanaan dan sarana untuk mengkomunikasikan tujuan dan pengembangan koleksi perpustakaan. Agar kebijakan pengembangan koleksi dapat dilaksanakan secara terarah, kebijakan pengembangan koleksi harus disusun secara tertulis.
Kebijakan pengembangan koleksi tertulis berfungsi sebagai pedoman, sarana komunikasi, dan perencanaan, sebab kebijakan tersebut :
a. Menjelaskan cakupan koleksi yang telah ada dan rencana pengembangan selanjutnya, agar diketahui oleh staf perpustakaan, pemakai, administrator, dan dewan pembina perpustakaan.
b. Memberi deskripsi yang sistematis tentang strategi pengelolaan dan pengembangan koleksi yang diterapkan diperpustakaan.
c. Menjadi pedoman bagi para pustakawan sehingga ketaatan dalam proses seleksi terjamin.
d. Menjadi standar atau tolok ukur untuk menilai sejauh mana sasaran pengembangan koleksi telah tercapai.
e. Membantu mempertanggung jawabkan alokasi anggaran.
f. Menjadi sarana komunikasi baik dengan masyarakat yang harus dilayani maupun pihak luar lain yang memerlukan informasi mengenai tujuan dan rencana pengembangan koleksi.
2. Seleksi
Secara umum seleksi diartikan sebagai tindakan, cara, atau proses memilih. Dalam hubungannya dengan pengembangan koleksi perpustakaan, seleksi merupakan kegiatan untuk mengidentifikasi suatu informasi untuk ditambahkan pada koleksi yang sudah ada di perpustakaan. Dengan demikian, proses seleksi merupakan kegiatan yang dilaksanakan sebelum kegiatan pengadaan bahan pustaka.
3. Pengadaan
Secara sederhana, pengadaan bahan pustaka dapat dilakukan lewat pembelian, tukar-menukar, hadiah, atau dengan cara menerbitkan sendiri. Bahan pustaka yang akan diadakan mencakup (1) karya cetak atau karya grafis, seperti buku, majalah, surat kabar, disertasi, dan laporan. (2) karya non cetak atau karya rekam, seperti piringan hitam, kaset, dan video. (3) bentuk mikro, seperti microfilm, dan mikrofis. (4) karya elektronik, seperti disket, pita magnetic, serta selongsong elektronik yang diasosiasikan dengan komputer.
4. Deseleksi
Deseleksi merupakan usaha untuk mengeluarkan atau menarik bahan pustaka dari koleksi.

C. PEMBAHASAN
1. Kebijakan Pengembangan Koleksi
Kebijakan pengembangan koleksi merupakan alat perencanaan dan sarana untuk mengkomunikasikan tujuan dan pengembangan koleksi perpustakaan. Agar kebijakan pengembangan koleksi dapat dilaksanakan secara terarah, kebijakan pengembangan koleksi harus disusun secara tertulis.
Rumusan yang dituangkan dalam kebijakan pengembangan koleksi tertulis dimulai dengan penjelasan singkat tentang misi perpustakaan dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai, deskripsi singkat mengenai masyarakat yang dilayani, koleksi yang telah ada, kemudian dilanjutkan dengan ketentuan-ketentuan berikut :
a. Penjelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan perpustakaan dan siapa yang diberikan wewenang untuk seleksi.
b. Metode pemilihan, pengaturan anggaran, komposisi masyarakat yang dilayani dan prioritas-prioritas tentang koleksi yang diseleksi.
c. Masalah-masalah khusus didaftarkan secara rinci, misalnya jenis bahan yang tidak dikoleksi, berapa copy dari satu judul (duplikasi), penjilidan, dan penggantian buku atau bahan perpustakaan lain yang hilang.
d. Penjelasan mengenai komposisi koleksi yang akan dikembangkan yang dibagi atas bidang subjek dan keterangan mengenai prioritas.
e. Bahan berbahasa asing
f. Jenis bahan perpustakaan berdasarkan format. Definisi tiap jenis dan kategorinya, keterangan mana yang dibeli dan mana yang tidak, dan pentingnya bahan tersebut bagi koleksi atau pemakai.
g. Hadiah dan cara penanganannya
h. Pijam antarperpustakaan serta jaringan dan bentuk kerjasama lain yang berpengaruh pada pengembangan koleksi.
i. Kriteria dan tata cara penyiangan.
j. Sikap perpustakaan terhadap sensor dan masalah lain yang berkaitan dengan kebebasan intelektual.
Penjelasan yang disebutkan di atas masih terbatas pada uraian-uraian umum yang seharusnya terdapat pada rumusan kebijakan pengembangan koleksi.

2. Seleksi
Proses seleksi adalah merupakan kegiatan yang dilaksanakan sebelum kegiatan pengadaan bahan pustaka. Namun siapa yang mempunyai wewenang melakukan seleksi dan cara melakukan seleksi?
a. Pihak yang melakukan seleksi
Kelompok yang dipandang memiliki kapabilitas untuk menyeleksi bahan pustaka antara lain, adalah pustakawan, spesialis subjek, took buku, dan komisi pustakawan. Meskipun demikian, kenyataannya di lapangan menunjukkan bahwa otoritas yang melakukan seleksi ditentukan oleh tipe/jenis perpustakaan yang bersangkutan. Pihak-pihak yang berwewenang melaksanakan seleksi menurut jenis perpustakaan adalah sebagai berikut :
• Perpustakaan sekolah
Pihak yang berwewenang menjalankan seleksi adalah kepala sekolah dan guru. Dalam kondisi tertentu, siswa dimungkinkan mengusulkan tetapi harus mempertimbangkan kebutuhan sekolah.
• Perpustakaan perguruan tinggi
Otoritas yang melaksanakan seleksi adalah pimpinan universitas, dekan, ketua jurusan/program studi, dan dosen. Pembentukan komisi penasihat/pengawas perpustakaan secara khusus juga dapat memilih atau memberikan usulan. Komisi ini biasanya terdiri atas pustakawan, dosen, dekan, dan elemen-elemen lain yang dipandang mampu.
• Perpustakaan umum
Pihak yang berwewenang melakukan seleksi adalah dewan penasihat/penyantun perpustakaan dan tokoh masyarakat yang berada disekitar perpustakaan umum.
b. Kriteria seleksi
Apapun kriteria seleksi yang diterapkan oleh perpustakaan, harus dituangkan dalam kebijakan pengembangan koleksi. Secara umum kriteria-kriteria yang diterapkan dalam seleksi adalah :
• Tujuan, Cakupan, dan Kelompok Pembaca
Bahan pustaka yang akan dipilih harus mempertimbangkan secara sungguh-sungguh kesesuaiannya dengan tujuan, cakupan, dan pengguna perpustakaan yang bersangkutan.
• Tingkatan koleksi
Tingkatan koleksi menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan koleksi tertentu. Ada enam kategori tingkatan koleksi, yaitu (1) karya dalam bentuk ringkasan, (2) karya ringan dan populer, (3) karya popular yang serius, (4) karya elementer, (5) karya standar, (6) karya yang tingkat ilmiahnya lebih tinggi misalnya tesis atau disertasi.
• Otoritas dan kredibilitas pengarang
Otoritas pengarang harus ditentukan secermat-cermatnya. Jika pengarang bukan pakar yang dikenal dalam bidangnya, kualifikasinya dalam penulisan buku harus diteliti dengan baik.
• Harga
Harga juga perlu dipertimbangkan. Misal harga buku yang cukup tinggi harus diperhatikan apakah buku tersebut sangat dibutuhkan atau tidak.
• Penyajian fisik buku
Penampilan fisik buku baru dapat mempengaruhi keputusan seleksi. Bahan pustaka seharusnya bersih, rapi, dan dapat dibaca.
• Struktur dan metode penyajian
Pustakawan dengan latar belakang subjek tertentu biasanya dapat memperoleh gambaran tentang struktur buku malalui daftar isi.
• Indeks dan Bibliografi
Keberadaan bibliografi dan indeks sebuah buku dapat diketahui secara jelas lewat entri dalam bibliografi nasional. Meskipun demikian, kualitas bibliografi dan indeks akan dapat ditentukan secara tepat apabila langsung diperiksa dan dilihat pada buku itu sendiri. Catatan kaki dan daftar rujukan bisa memperkuat klaim keaslian penelitian.

3. Pengadaan
Secara sederhana, pengadaan bahan pustaka dapat dilakukan lewat pembelian, tukar-menukar, hadiah, atau dengan cara menerbitkan sendiri. Bahan pustaka yang akan diadakan mencakup (1) karya cetak atau karya grafis, seperti buku, majalah, surat kabar, disertasi, dan laporan. (2) karya non cetak atau karya rekam, seperti piringan hitam, kaset, dan video. (3) bentuk mikro, seperti microfilm, dan mikrofis. (4) karya elektronik, seperti disket, pita magnetic, serta selongsong elektronik yang diasosiasikan dengan komputer.
Pengadaan atau akuisisi dilakukan oleh bagian pengadaan. Bagian ini tidak semata-mata bertanggung jawab terhadap pengadaan koleksi saja, tetapi juga bertanggung jawab atas hal-hal berikut :
- Pengadaan atau pengembangan koleksi
- Pemecahan persoalan-persoalan yang muncul dalam pemesanan bahan pustaka
- Pembuatan rencana pemilihan bahan pustaka yang terus menerus
- Pemeriksaan dan mengikuti terus-menerus penerbitan-penerbitan bibliografi
- Berusaha memperoleh bahan-bahan reproduksi apabila bahan aslinya sudah tidak diperoleh (buku-buku out of print), tetapi sangat diperlukan pemakai.
- Mengadakan hubungan dengan para pedagang atau penyalur buku.
- Mengawasi penerimaan hadiah dan tukar-menukar bahan pustaka.
Perpustakaan dalam memperoleh bahan pustaka dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Pembelian
Pemesanan langsung dapat dilakukan pada penerbit ataupun toko buku. Penerbit Indonesia pada umumnya melayani permintaan perpustakaan. Akan tetapi, penerbit asing umumnya tidak melayani perpustakaan. Mereka (penerbit asing) hanya melayani pembelian dari toko buku ataupun penjaja (vendor) sehingga perpustakaan Indonesia harus membeli melalui toko buku. Proses pemesanan dapat melalui sebagai berikut :
a. Toko Buku
Pembelian bahan pustaka secara langsung ke toko buku banyak dilakukan oleh perpustakaan yang jumlah dananya relatif sedikit. Pembelian dengan cara ini biasanya dilakukan untuk judul dan eksemplar yang tidak banyak. Kekurangan yang umumnya terjadi pada pembelian bahan pustaka ke toko buku adalah :
- Tidak semua subjek atau judul yang dibutuhkan perpustakaan tersedia di toko buku.
- Toko buku tidak selalu bisa ditemukan di setiap kabupaten sehingga tidak mampu melayani kebutuhan perpustakaan.
- Toko buku yang terdapat di kota kecil pada umumnya hanya menyediakan bahan pustaka yang berbahasa Indonesia.
- Tidak semua pesanan bahan pustaka dari satu perpustakaan dapat dipenuhi dari satu toko buku saja.
b. Penerbit
Pembelian bahan pustaka juga dapat dilakukan melalui penerbit, baik dalam negeri maupun luar negeri. Penerbit di Indonesia biasanya melayani pemesanan dari perpustakaan. Akan tetapi, penerbit asing umumnya tidak melayani perpustakaan. Mereka (penerbit asing) hanya melayani pembelian dari toko buku ataupun penjaja (vendor) sehingga perpustakaan Indonesia harus membeli melalui toko buku.
Pemesanan bahan pustaka secara langsung ke penerbit dapat dilakukan apabila judul-judul yang dibutuhkan betul-betul diterbitkan oleh penerbit tersebut. Untuk mengetahui hal ini perpustakaan dapat memanfaatkan katalog penerbit yang dikeluarkan penerbit sehingga bahan pustaka yang akan diadakan dapat dipesan langsung pada penerbitnya.
c. Agen Buku
Selain pembelian ke toko buku dan penerbit, perpustakaan juga dapat membeli buku melalui agen buku yang biasa disebut dengan jobber atau vendor. Agen buku ini berperan sebagai mediator antara perpustakaan dan penerbit, terutama untuk pengadaan bahan pustaka terbitan luar negeri.
2. Tukar-menukar
Bahan pustaka tertentu tidak dapat dibeli di toko buku, tetapi hanya dapat diperoleh melalui pertukaran.
a. Tujuan Tukar-menukar
Pertukaran bahan pustaka antar perpustakaan mempunyai beberapa tujuan, yaitu :
- Untuk memperoleh bahan pustaka tertentu yang tidak dapat dibeli di toko buku, penerbit, agen, atau yang tidak dapat diperoleh karena alasan lain sehingga hanya bisa didapatkan melalui pertukaran.
- Melalui pertukaran akan memberi jalan bagi perpustakaan untuk memanfaatkan bahan pustaka yang duplikasi.
- Dengan pertukaran akan memberi peluang untuk mengembangkan kerja sama yang baik antar perpustakaan.
b. Teknik Tukar-menukar
Cara tukar-menukar bahan pustaka dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut :
- Menyusun daftar bahan pustaka duplikasi sebagai bahan penawaran
- Mengirimkan penawaran kepada perpustakaan-perpustakaan yang dinilai mempunyai koleksi yang sesuai dengan bahan pustaka yang ditawarkan.
- Perpustakaan yang menerima tawaran akan mempelajari tawaran yang diterima dan membandingkan dengan kebutuhan dan kebijakan pengembangan koleksinya sendiri. Kemudian memilih bahan penukar yang sesuai dengan bobotnya dan menyusunnya dalam daftar bahan pustaka yang akan ditawarkan sebagai bahan penukar.
- Perpustakaan yang telah menerima tanggapan atas penawarannya, menilai keseimbangan bahan pertukaran tentang subjek dan bobotnya. Jika diterima, kemudian mengirimkan jawaban persetujuan bahwa tukar-menukar dapat dilaksanakan.
- Setelah menerima bahan pertukaran, masing-masing perpustakaan mengelolahnya sesuai dengan prosedur penerimaan dan inventarisasi.
3. Hadiah
Bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan kadang-kadang diperoleh melalui hadiah. Bahan pustaka yang diperoleh lewat hadiah sangat penting untuk mengembangkan koleksi perpustakaan. Perpustakaan yang menerima bahan pustaka berupa hadiah dapat menghemat biaya pembelian.

4. Deseleksi
Perawatan koleksi merupakan bagian pengelolaan koleksi yang meliputi berbagai kegiatan yang bertujuan menjaga kemutakhiran dan daya guna koleksi perpustakaan. Salah satu bagian perawatan koleksi adalah deseleksi atau penyiangan. Deseleksi secara sederhana dipahami sebagai usaha untuk mengeluarkan atau menarik bahan pustaka dari koleksi.
Penyiangan yang dilakukan di perpustakaan tentu saja mempunyai tujuan. Ada empat tujuan yang akan dicapai, diantaranya :
a. Memperoleh tambahan tempat untuk koleksi baru.
b. Membuat koleksi lebih dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi yang akurat, relevan, up to date, serta menarik.
c. Memberikan kemudahan pada pemakai dalam menggunakan koleksi.
d. Memungkinkan staf perpustakaan mengelola koleksi secara efektif dan efisien.

D. KESIMPULAN
Pengembangan koleksi (collections development) dimaksudkan untuk membina sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi perpustakaan dan masyarakat yang akan dilayani. Pengembangan koleksi tidak hanya mencakup kegiatan pengadaan bahan pustaka, tetapi juga manyangkut masalah perumusan kebijakan dalam memilih dan menentukan bahan pustaka mana yang akan diadakan serta metode-metode apa yang akan diterapkan. Kebijakan pengembangan koleksi merupakan alat perencanaan dan sarana untuk mengkomunikasikan tujuan dan kebijakan pengembangan koleksi. Barulah kemudian masuk pada tahap pengadaan bahan pustaka yang dimulai dari tahap seleksi sampai pada tahap pengadaan bahan pustaka dan deseleksi.

DAFTAR PUSTAKA

Sulistiyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Yulia, Yuyu, Sujana, Janti G., Windarti Henny 1994. Pengadaan Bahan Pustaka. Jakarta : Universitas Terbuka.

PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGGUNAAN PERPUSTAKAAN

May 27th, 2008

A. PENDAHULUAN
Sebagaimana diketahui bahwa perkembangan teknologi informasi dari hari ke hari semakin meningkat, hal ini disebabkan banyaknya penemuan-penemuan baru yang semakin menunjang kecanggihan peralatan teknologi komunikasi. Selah satu alat teknologi informasi adalah komputer. Sekarang, komputer sudah merambah hampir semua bidang kehidupan. Sebagai alat teknologi informasi computer memang telah menunjukan kecanggihannya yang luar biasa karena kemampuannya dalam mengolah, menyimpan dan menyampaikan data. Dalam hal mengolah data, komputer tidak hanya dapat mengolah data berupa teks atau angka tapi juga sudah dapat mengolah gambar dan suara dengan baik. Dalam hal menyimpan data, komputer sekarang telah dapat menyimpan data dengan jumlah yang cukup besar. Demikian juga dalam hal menyampaikan data, komputer telah dapat menyampaikan data ke berbagai tempat dengan waktu tempuh yang sangat cepat bahkan butuh waktu menit atau bahkan detik.
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi ini, yang menjadi permasalahan adalah sejauhmana perpustakaan dapat memanfaatkannya dan seberapa banyak perpustakaan yang sudah memanfaatkannya. Sebagai tempat mengolah, menyimpan dan menyampaikan berbagai informasi maka sudah selayaknya kalau perpustakaan memanfaatkan teknologi ini secara maksimal. Namun kenyataannya masih banyak perpustakaan yang belum memanfaatkan teknologi ini. Kebanyakan perpustakaan masih dikelola dengan cara manual. Hal ini terjadi karena banyak faktor dan kendala yang dihadapi oleh masing-masing perpustakaan yang berbeda-beda. Misalnya satu perpustakaan mempunyai kendala dana, namun perpustakaan lain mungkin tidak bermasalah dengan dana tapi kebijaksanaan pimpinan yang belum mengarah kesana sehingga pelaksanaan komputerisasi belum bisa terlaksana. Dari sekian banyak faktor, yang paling penting dan menentukan adalah faktor kebijakan pimpinan. Bila kebijakan pimpinan telah teratasi maka faktor-faktor lainpun akan mudah untuk bisa diatasi.

B. PEMBAHASAN
1. Yang Perlu dilakukan Sebelum Menggunakan Teknologi Informasi
Upaya yang perlu dilakukan sebelum menggunakan teknologi informasi diantaranya adalah :
a. Dukungan kebijaksaan pimpinan (manajement policy)
Untuk dapat mencapai keberhasilan komputerisasi perpustakaan yang maksimal langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendapatkan dukungan kebijakan pimpinan. Pimpinan disini bisa kepala perpustakaan dan atau atasan langsung kepala perpustakaan.
Dukungan ini sangat diperlukan karena tanpa dukungan kebijakan maka komputerisasi perpustakaan akan sulit untuk dilaksanakan. Karena banyak hal yang perlu minta persetujuan dari pimpinan baik itu keperluan peralatan, keuangan dan software yang akan digunakan.
b. Ketersediaan dana
Penyediaan dana merupakan suatu keharusan bila ingin melakukan komputerisasi perpustakaan. Adanya kebijakan saja tidak cukup tapi harus didukung dengan ketersediaan dana. Hal ini wajar karena suatu program tidak mungkin bisa berjalan bila tidak didukung oleh dana. Karena dalam melakukan komputerisasi perpustakaan, banyak peralatan yang dibutuhkan baik hardware maupun software. Dana disini juga hendak menyangkut dana untuk entri data bila diperlukan. Setelah implementasi dan masa garansi sudah selesai maka hendak juga mulai dianggarkan dana untuk pemeliharaan baik untuk pemeliharaan software maupun hardware.
c. Studi banding
Studi banding perlu dilakukan dengan tujuan untuk melihat perpustakaan yang sudah melakukan komputerisasi dengan harapan kita mendapatkan gambaran yang jelas tentang komputerisasi perpustakaan. Sehingga pada waktu melaksanakan komputerisasi perpustakaan, pengetahuan yang diperoleh dari studi banding adalah referensinya. Studi banding tidak perlu dilakukan di luar daerah bila perpustakaan terdekat sudah melakukan komputerisasi perpustakaan. Semakin banyak di kunjunginya perpustakaan yang telah melakukan komputerisasi maka semakin banyak pula hal yang diketahui karena biasanya masing-masing perpustakaan mempunyai cirri khas sendiri-sendiri.
d. Penentuan rung lingkup kegiatan
Sebelum melakukan kegiatan komputerisasi perpustakaan, hendaknya telah dipilih atau ditentukan kegiatan-kegiatan yang akan menggunakan teknologi komputer. Penentuan kegiatan perlu dilakukan agar supaya komputerisasi yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan target yang diharapkan. Dengan penentuan kegiatan ini maka akan dapat sesuai dengan kondisi perpustakaan baik yang menyangkut dana, pengadaan peralatan maupun pengadaan software.
e. Pemilihan software
Sebagaimana diketahui bahwa sekarang telah banyak software perpustakaan yang ditawarkan dipasaran yang masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk itu hendaknya sebelum melakukan komputerisasi perpustakaan harus benar-benar memilih suatu software yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan perpustakaan.
f. Pemilihan hardware
Hardware komputer merupakan salah satu komponen penting dalam melakukan komputerisasi perpustakaan. Untuk itu pemilihan hardware hendaknya disesuaikan dengan kebutuhannya. Dan yang terpenting adalah spesifikasi komputer yang diperlukan hendaknya spesifikasi yang mutakhir. Dipilihnya yang mutakhir karena agar tidak mengalami kesulitan komponen bila terjadi kerusakan atau penggantian dan penambahan peralatan.

2. Penggunaan Teknologi Informasi dalam Pengelolaan Perpustakaan.
Pengertian perpustakaan menurut The International Federation of Library (IFLA) menyebutkan bahwa perpustakaan sebagai kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai.
Perpustakaan adalah suatu unit kerja tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk digunakan secara kontinyu oleh pemakainya sebagai sumber informasi (Nurhadi, 1983: 11).
Dari kedua pengertian tersebut diatas jelas bahwa perpustakaan mempunyai fungsi mengumpulkan, menyimpan, dan mendistribusikan informasi kepada penggunanya. Untuk menjalankan ketiga fungsi tersebut sudah seharusnya kalau perpustakaan menggunakan teknologi informasi. Selama ini kebanyakan pengelolaan administrasi perputakaan yang menyangkut pengadaan, pengolahan bahan pustaka dan sirkulasi serta kegiatan penelusuran masih dikelola dengan cara manual. Sehingga pengelolaannya terkesan komplek, bertele-tele dan kurang efisien. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi maka pengelolaan administrasi perpustakaan dapat dikelola dengan menggunakan teknologi informasi dengan melakukan kegiatan automasi atau komputerisasi perpustakaan. Kegiatan automasi atau komputerisasi perpustakaan dapat dimulai dari kegiatan pengadaan, pengolahan, sirkulasi dan penelusuran.
a. Pengadaan Bahan Pustaka
Dalam kegiatan pengadaan bahan pustaka yang sangat diperlukan adalah data yang benar dan akurat baik judul maupun jumlah eksemplarnya. Untuk itu maka pengelolaan administrasi data yang baik sangat diperlukan, bila pengelolaan datanya dilakukan secara manual maka sering dijumpai pengadaan judul yang sama, sehingga jumlah eksemplar yang terlalu banyak. Untuk itu perlu dilakukan pendataan secara komputerisasi. Karena dengan adanya ketersediaan data dalam computer akan memudahkan dalam melakukan pengecekan judul buku yang telah diadakan.
b. Pengolahan Bahan Pustaka
Sebelum bahan pustaka bisa dipergunakan oleh pemakai perpustakaan biasanya diolah terlebih dahulu sehingga bahan pustaka benar-benar siap untuk disajikan. Kegiatan pengolahan bahan pustaka ini kebanyakan masih dilakukan secara manual. Pengolahan bahan pustaka secara manual biasanya dilakukan melalui serangkaian kegiatan antara lain penentuan nomor klasifikasi, memasukan data buku dalam buku induk, pembuatan katalog buku, kartu peminjaman, pembuatan slip peminjam buku, dan pembuatan label punggung buku. Serangkaian kegiatan ini tentunya membutuhkan waktu dan tenaga. Untuk mempermudahkan pekerjaan ini maka diperlukan komputerisasi dalam melaksanakannya. Dengan komputerisasi maka sebagian pekerjaan yang secara manual harus dilakukan, tidak perlu dilakukan lagi karena pekerjaan tersebut sudah dapat digantikan atau dilakukan dengan komputer. Dalam komputerisasi pengolahan bahan pustaka, pekerjaan yang paling terpenting adalah input data. Input data harus benar-benar akurat, karena data-data inilah yang nantinya akan dipakai dalam kegiatan sirkulasi dan penelusuran. Dari data yang telah diinputkan ini maka akan diolah oleh komputer untuk berbagai keperluan misalnya :
- Kartu katalog buku
- Label punggung buku
- Daftar buku
- Statistik jumlah buku
- Grafik jumlah buku
- Dan lain-lain
c. Sirkulasi
Kegiatan sirkulasi adalah suatu bagian kegiatan pelayanan perpustakaan kepada pemustaka. Kecepatan dalam pelayanan sangat diperlukan baik dalam melaksanakan peminjaman buku maupun dengan pengembalian. Kalau kegiatan ini dilakukan secara manual jelas sangat membutuhkan waktu dan tenaga karena banyak kegiatan yang harus dilakukan. Tentunya hal ini sangat tidak efektif dan efisien yang akhirnya cenderung mengurangi kualitas pelayanan kita kepada pengunjung perpustakaan. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan komputerisasi. Dengan komputerisasi, disamping mempercepat pelayanan juga akan membantu dalam pengelolaan administrasi anggota, pengunjung, peminjaman dan pengembalian buku.
d. Penelusuran Bahan Pustaka
Penelusuran bahan pustaka adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemustaka. Sebagai penyedia informasi sudah selayaknya perpustakaan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada pemustaka. Dengan penyediaan penelusuran secara online maka pemustaka bisa mendapatkan judul buku yang dicari dan langsung dapat mengetahui apakah sedang dipinjam atau tidak, serta mengetahui buku tersebut ada dilemari mana. Bahkan guna memenuhi keinginan pengunjung perpustakaan akan informasi yang komplet, maka ada sebagian perpustakaan yang sudah menyediakan informasi secara fulltext atau yang sering dikenal dengan perpustakaan digital.

C. PENUTUP
Komputer sudah merambah hampir semua bidang kehidupan manusia. Kehadiran computer sudah mulai terasa sulit untuk dihindari karena banyaknya pekerjaan manusia yang membutuhkan alat ini dalam pengerjaannya. Sebagai alat teknologi informasi komputer memang telah menunjukkan kecanggihannya yang luar biasa karena kemampuannya dalam mengolah, menyimpan dan menyampaikan informasi/data.
Oleh karena itu sudah semestinya perpustakaan memanfaatkan teknologi/komputer dalam pelaksanaan kegiatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Hendrowi. 2005. Salah Kaprah Perpustakaan Digital di Indonesia.

Nurhadi, Muljadi. 1983. Sejarah Perpustakaan dan Perkembangan di Indonesia.

Subagyo, R. Harry. 2004. Strategi Membangun Sistem Otomasi Dalam Perpustakaan.

PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MINAT DAN BUDAYA BACA

May 5th, 2008

A. Pendahuluan
Perpustakaan sebagai pusat informasi dengan masyarakat yang membutuhkan informasi ibarat dua sisi mata uang yang saling berhubungan yang tak dapat dipisahkan. Hal itu dapat terwujud manakala perpustakaan sudah siap melayani dengan sumber informasi yang memadai. Sementara masyarakat mampu atau mau memahami, menghayati, dan memaknai pentingnya informasi dalam kesehariannya.(Sutarno NS, 2006).
Perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya. Hal tersebut telah ada sejak dulu dan terus berproses secara alamiah menuju kepada suatu kondisi dan tingkat perbaikan yang signifikan meskipun belum memuaskan semua pihak.
Kini, bagi sebagian besar masyarakat, perpustakaan merupakan bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi di dalam kehidupannya, terutama masyarakat pelajar, mahasiswa dan kelompok-kelompok tertentu untuk menunjang aktifitasnya. Dengan kata lain perpusakaan sudah memasyarakat. Namun kita juga harus menyadari sebagian masyarakat yang lain belum mendapatkan fasilitas dan layanan perpustakaan sebagaimana mestinya. Hal itu merupakan peringatan bagi semua pihak untuk segera membenahi, dan mengembangkan perpustakaan. Maksudnya agar dapat memenuhi tugas dan fungsinya sebagai salah satu pusat informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa, meliputi kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan personal, kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial.
Perpustakaan pada prinsipnya mempunyai tiga kegiatan pokok, yaitu Pertama, mengumpulkan (to collect) semua informasi yang sesuai dengan bidang kegiatan dan misi organisasi dan masyarakat yang dilayaninya. Kedua, melestarikan, memelihara, dan merawat seluruh koleksi perpustakaan, agar tetap dalam keadaan baik, utuh, layak pakai, dan tidak lekas rusak baik karena pamakaian maupun karena usianya (to preserve). Ketiga, menyediakan dan menyajikan informasi untuk siap dipergunakan dan diberdayakan (to make available) seluruh koleksi yang dihimpun perpustakaan untuk dipergunakan pemakainya. (Ensiklopedia Americana dalam Sutarno NS, 2006). Namun disamping kegiatan-kegiatan tersebut, penyelengaraan perpustakaan tentu mempunyai maksud-maksud dan tujuan tertentu yang ingin dicapai.
1. Maksud Penyelenggaraan Perpustakaan, menurut Ibrahim Bafadal (2002):
a. Sebagai salah satu pusat informasi, sumber belajar, penelitian serta kegiatan ilmiah lainnya. Memberikan layanan kepada pemakai, seperti membaca, meminjam, meneliti dengan cara cepat, tepat, mudah dan murah.
b. Sebagai tempat mengolah atau memproses semua bahan pustaka dengan metode atau sistem tertentu sebagai registrasi, klasifikasi, katalogisasi dan kelengkapan lainnya, baik secara manual maupun menggunakan sarana teknologi informasi.
c. Merupakan agen perubahan dan agen kebudayaan dari masa lalu, sekarang dan masa depan.
2. Tujuan Perpustakaan
Sesuai dengan maksud-maksud tersebut diatas, maka tujuan perpustakaan adalah untuk menyediakan fasilitas dan sumber informasi dan menjadi pusat pembelajaran. Secara tidak langsung menciptakan masyarakat yang terdidik, terpelajar, terbiasa membaca dan berbudaya tinggi.
Dalam kehidupan modern yang ditandai dengan perkembangan dan persebaran informasi yang begitu cepat, dan di dalamnya terdapat peran perpustakaan secara signifikan. Dalam tulisan ini akan mencoba menguraikan secara singkat apa yang dimaksud dengan minat dan budaya baca, serta peran perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat dan budaya baca.

B. Minat, Kebiasaan dan Budaya Baca
Minat, Kebiasaan dan Budaya Baca, ketiga istilah ini merupakan kata-kata yang mengandung pengertian yang saling berhubungan. Minat seseorang terhadap sesuatu adalah kecenderungan hati yang tinggi, gairah atau keinginan seseorang terhadap sesuatu. Minat baca seseorang dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi orang tersebut kepada sumber bacaan tertentu. Sedangkan budaya adalah pikiran atau akal budi yang tercermin di dalam pola pikir, sikap, ucapan dan tindakan seseorang didalam hidupnya. Budaya diawali dari sesuatu yang sering atau biasa dilakukan sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan atau budaya. Budaya baca seseoang adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seorang yang mempunyai budaya baca adalah bahwa orang tersebut telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca. (Sutarno NS, 2006).
Faktor yang menjadi pendorong atas bangkitnya minat baca ialah ketertarikan, kegemaran dan hobi membaca, dan pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca. Berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersediannya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai, baik jenis, jumlah maupun mutunya. Inilah sebuah formula yang secara ringkas untuk mengembangkan minat dan budaya baca. Dari rumusan konsepsi tersebut tersirat tentang perlunya minat baca itu dibangkitkan sejak usia dini (kanak-kanak).
Minat baca yang mulai dikembangkan pada usia dini dan berlangsung secara teratur akan tumbuh menjadi kebiasaan membaca. Sementara itu kebiasaan membaca selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi berkembangnya budaya baca. Suburnya dan terpupuknya perkembangan kebiasaan dan budaya baca tentu sangat tergantung pada sejumlah faktor. Faktor-faktor tersebut seperti tersedianya bahan bacaan yang memadai, bervariasi, dan mudah ditemukan, serta dapat memenuhi keinginan pembacanya. Kita baru bisa bicara tentang budaya baca apabila membaca sudah terasa sebagai kebutuhan dan menjadi kebiasaan untuk dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, tanpa tersedianya bahan bacaan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi atau dipuaskan, dan mungkin saja kebiasaan membaca tersebut tentu akan menyusut. Kebiasaan membaca tersebut mudah dipengaruhi oleh kebiasaan menonton melalui media elektronik yang sajiannya bersifat audio visual. Sehubungan dengan minat, kebiasaan dan budaya baca tersebut, paling tidak ada tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu :
Pertama, dimulai dengan adanya kegemaran karena tertarik bahwa buku-buku tersebut dikemas dengan menarik, baik disain, gambar, bentuk dan ukurannya. Didalam bacaan tertentu terdapat sesuatu yang menyenangkan diri pembacanya.
Kedua, setelah kegemaran tersebut dipenuhi dengan ketersediaan bahan dan sumber bacaan yang sesuai dengan selera, ialah terwujudnya kebiasaan membaca. Kebiasaan itu dapat terwujud manakala sering dilakukan, baik atas bimbingan orangtua, guru atau lingkungan disekitarnya yang kondusif, maupun atas keinginan anak tersebut.
Ketiga, jika kebiasaan membaca itu dapat terus dipelihara, tanpa “gangguan� media elektronik, yang bersifat “entertainment�, dan tanpa membutuhkan keaktifan fungsi mental. Oleh karena seorang pembaca terlibat secara konstruktif dalam menyerap dan memahami bacaan, maka tahap selanjutnya ialah bahwa membaca menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Setelah tahap-tahap tersebut dapat dilalui dengan baik, maka pada diri seseorang tersebut mulai terbentuk adanya suatu budaya baca.

Ketika diamati dengan cermat ada beberapa faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah :
(1) Rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan dan informasi.
(2) Keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam arti tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas dan beragam.
(3) Keadaan lingkungan sosial yang lebih kondusif, maksudnya adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membasa.
(4) Rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang actual.
(5) Berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.
Faktor-faktor tersebut dapat terpelihara melaui sikap-sikap, bahwa dalam diri tertanam komitmen membaca memperoleh keuntungan ilmu pengetahuan, wawasan/pengalaman dan kearifan. Sehingga terwujudnya kondisi yang mendukung terpeliharanya minat baca, adanya tantangan dan motivasi untuk membaca, serta tersedianya waktu untuk membaca, baik di rumah, perpustakaan ataupun ditempat lain. (Buletin Pusat Perbukuan, vol. 5, 2001).
Dalam masyarakat kita yang telah berkembang adalah budaya tutur atau lisan, maka masih membutuhkan tekad dan semangat untuk mengubah menjadi budaya baca-tulis. Namun yang paling penting adalah bahwa hal itu seharusnya dimulai dengan tindakan nyata, tidak terbatas wacana atau discourses.
Kita selalu menyatakan mengutamakan ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mempersoalkan sejauhmana minat baca telah berkembang, dan membahas upaya bagaimana masyarakat mengembangkan berbudaya baca. Sudah banyak waktu, energi, perhatian dan modal yang dikeluarkan. Namun segalanya itu tidak mungkin terlepas dari kenyataan sebagai pijakan untuk mengambil langkah-langkah kongkret lebih lanjut. Kelihatannya budaya baca baru menggejala di kalangan sangat terbatas didalam masyarakat kita, sehingga membaca buku terkesan merupakan “privilese� bagi kalangan tertentu. Sementara semua orang menyadari bahwa meningkatnya arus informasi secara kualitatif dan kuantitatif dewasa ini. Perbedaan kesempatan untuk memperoleh informasi dapat berakibat kesenjangan yang membedakan masyarakat menjadi dua golongan, yaitu antara warga yang diuntungkan oleh kemudahan dan keluasan akses terhadap informasi, dan mereka yang dirugikan karena sangat terbatas akses itu. Kesenjangan atau ketimpangan tersebut sebagai konsekuensi atas perbedaan akses mendapatkan informasi akan merupakan beban yang amat menghambat kemajuan masyarakat yang bersangkutan. Oleh sebab itu kesungguhan kita untuk membangun mesyarakat yang berbudaya baca mestinya ditunjang oleh meningkatnya ketersediaan bahan bacaan yang memadai, makin efektif dan efisiennya fungsi perpustakaan. Perpustakaan merupakan media antara sumber informasi dan masyarakat semestinya dibenahi dan diberdayakan secara optimal. Komitmen untuk hal itu mungkin sudah terumuskan dalam berbagai slogan dan kebijakan publik, tetapi realisasinya belum sepenuhnya dapat diwujudkan.

C. Perkembangan Jenis Perpustakaan
Setiap perpustakaan memiliki sejarah yang berbeda-beda. Karena sejarahnya yang berbeda-beda itu, setiap perpustakaan mempunyai tujuan, anggota, organisasi, dan kegiatan yang berlainan. Perbedaan tujuan, organisasi induk, anggota dan kegiatan akan berpengaruh pada timbulnya berbagai jenis perpustakaan.
Menurut Qalyubi, dkk (2007) Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya berbagai jenis perpustakaan adalah sebagai berikut :
1. Munculnya berbagai jenis media informasi, seperti media tercetak (buku, majalah, laporan, surat kabar) dan media grafis/elektronik, seperti film, foto, microfilm dan video. Berbagai perpustakaan menunjukkan tanggapan yang berbeda-beda terhadap berbagai jenis bahan pustaka. Beragamnya tanggapan yang berbeda-beda itulah yang menimbulkan berbagai jenis perpustakaan.
2. Tanggapan terhadap keperluan informasi dari berbagai kelompok pembaca. Dalam masyarakat terdapat berbagai kelompok pembaca, misalnya anak dibawah lima tahun, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, remaja putus sekolah, dan yang lain. Karena kebutuhan bahan bacaan yang berbeda, tumbuhlah perpustakaan yang mengkhususkan diri untuk kelompok pembaca tertentu.
3. Tanggapan yang berlainan terhadap spesialisasi subjek, termasuk ruang lingkup subjek serta rincian subjek yang bersangkutan. Dalam kenyataan sehari-hari, pembaca mempunyai minat serta keperluan informasi yang berbeda derajat kedalamannya walaupun subjeknya sama. Karena kebutuhan informasi mengenai suatu subjek yang berbeda-beda intensitas intelektualnya, tumbuh berbagai jenis perpustakaan dengan koleksi yang sesuai dengan keperluan dan tingkat intelektualitas pembaca.
4. Adanya ledakan informasi, yakni pertumbuhan literatur yang cepat dan sangat banyak sehingga tidak memungkinkan sebuah perpustakaan memiliki semuanya. Disamping itu pertumbuhan subjek ilmu pengetahuan, artinya bahwa sering terjadi fusi berbagai subjek menjadi satu atau sebaliknya suatu subjek memunculkan subjek lain.
Perbedaan tujuan, misi yang diemban, dan berbagai sebab seperti tersebut diatas, menyebabkan munculnya pengelompokan perpustakaan seperti diantaranya perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan khusus. Namun dalam tulisan ini hanya akan membahas secara singkat peran perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat baca.

D. Peran Perpustakaan Sekolah dalam Meningkatkan Minat Baca
Dasar pembentukan perpustakaan sekolah di Indonesia adalah Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.2 Tahun 1989, yang isinya menyatakan bahwa setiap sekolah harus menyediakan sumber belajar (perpustakaan). Perpustakaan merupakan unit pelayanan di dalam lembaga yang kehadirannya hanya dapat dibenarkan jika mampu membantu pencapaian pengembangan tujuan-tujuan sekolah yang bersangkutan. Penekanan tujuan keberadaan perpustakaan sekolah adalah pada aspek edukatif dan rekreatif (kultural).
Perpustakaan sekolah tidak boleh menyimpang dari tugas dan tujuan sekolah sebagai lembaga induknya. Sehingga beberapa fungsi perpustakaan sekolah menurut Qalyubi, dkk.(2007), adalah sebagai berikut :
1. Sebagai sumber kegiatan belajar mengajar. Perpustakaan sekolah berfungsi membantu program pendidikan dan pengajaran sesuai dengan tujuan yang terdapat di dalam kurikulum. Mengembangkan kemampuan anak menggunakan sumber sumber informasi. Bagi guru, perpustakaan sekolah merupakan tempat untuk membantu guru mengajar dan tempat untuk memperkaya pengetahuan.
2. Membantu peserta didik memperjelas dan memperluas pengetahuan pada setiap bidang studi. Keberadaan dan tujuan perpustakaan sekolah harus terintegrasi dengan seluruh kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah dapat dijadikan sebagai laboratorium ringan yang sesuai dengan tujuan yang terdapat di dalam kurikulum.
3. Mengembangkan minat dan budaya membaca yang menuju kebiasaan belajar mandiri.
4. Membantu anak untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemarannya.
5. Membiasakan anak untuk mencari informasi di perpustakaan, kemahiran anak mencari informasi di perpustakaan akan menolong untuk belajar mandiri dan memperlancar dalam mengikuti pelajaran selanjutnya.
6. Perpustakaan sekolah merupakan tempat memperoleh bahan rekreasi sehat melalui buku-buku bacaan yang sesuai dengan umur tingkat kecerdasan anak.
7. Perpustakaan sekolah memperluas kesempatan belajar bagi peserta didik.
Berdasarkan fungsi-fungsi diatas, sudah jelas bahwa perpustakaan sekolah ikut berperan dalam membantu meningkatkan minat dan budaya baca, walaupun keberadaan perpustakaan sekolah sampai pada saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan, bukan saja pada segi fisiknya (gedung dan ruangan), tetapi juga dari segi sistem pengelolaannya, sumber daya manusia, koleksi, dan alat/perlengkapan fisik lainnya.
Hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Bidang Perpustakaan sekolah, Pusat Pembinaan Diknas terhadap keberadaan perpustakaan sekolah, menunjukan hal-hal sebagai berikut :
a. Banyak sekolah yang belum menyelenggarakan perpustakaan.
b. Perpustakaan sekolah yang ada kebanyakan belum menyelenggarakan layanan secara baik, kurang membantu proses belajar mengajar, dan sering berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku (gudang) belaka.
c. Ada sejumlah kecil perpustakaan sekolah yang kondisinya cukup baik, tetapi belum terintegrasi dengan kegiatan belajar mengajar.
d. Keberadaan dan kegiatan perpustakaan sekolah sangat bergantung pada sikap kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan dalam segala hal.
e. Kebanyakan perpustakaan sekolah tidak memiliki pustakawan (tenaga pengelola tetap), sering hanya dikelola oleh seorang guru yang setiap saat dapat dimutasikan.
f. Pekerjaan di perpustakaan dianggap kurang terhormat sehingga kurang disukai, dan bahkan dianggap sebagai pekerja kelas dua. Oleh karena itu, ada perpustakaan yang pengelolanya diserahkan kepada petugas tata usaha sebagai tugas sampingan.
g. Koleksi perpustakaan sekolah umumnya tidak bermutu dan belum terarah sesuai dengan tujuannya.
h. Layanan perpustakaan sekolah belum dilaksanakan dengan baik karena kurangnya SDM yang terdidik dalam bidang perpustakaan.
i. Dana yang dialokasikan untuk pembinaan dan pengembangan perpustakaan sangat terbatas.
j. Banyak sekolah yang tidak mempunyai ruangan khusus untuk perpustakaan.
Dilihat dari aspek koleksinya, banyak perpustakaan sekolah yang hanya memiliki buku paket bidang studi, yang merupakan buku ajar atau buku teks yang dipakai dalam pengajaran. Koleksi lain yang berorientasi pada aspek rekreatif (kultural) sangat kurang, bahkan sering tidak ada. Padahal, koleksi penunjang seperti buku-buku fiksi sangat penting, khususnya untuk meningkatkan daya imajinasi dan menumbuhkan motivasi membaca.
Ironisnya lagi, ada sementara dari kalangan pendidik (guru) yang masih berpendapat bahwa tanpa perpustakaan sekolah, proses belajar dan mengajar berjalan lancar. Mereka kurang berupaya agar anak didik mempunyai budaya baca sehingga dapat memperlancar dan mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang. Banyak di kalangan guru yang hanya mengejar aspek nilai normatif pada setiap bidang studi yang diajarkan. Jika hal-hal seperti itu dipertahankan, jaminan peningkatan hasil pendidikan di kalangan sekolah masih sulit diharapkan.

E. Kesimpulan
Dari uraian-uraian tersebut diatas, jelaslah bahwa perpustakaan sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan minat dan budaya baca, yang pada gilirannya nanti akan mampu meningkatkan sumber daya manusia yang tangguh.
Kiranya tepatlah kalau hal tersebut dihubungkan dengan pengetian perpustakaan sebagaimana dikehendaki menurut Keputusan Presiden RI No.11 Tahun 1989 (Supriyanto, 2006), bahwa perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestari bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional.

Daftar Pustaka

Bafadal, Ibrahim, 1996. Pengelolaan Perpustaaan Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara.

Buletin Pusat Perbukuan, vol. 5, 2001. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Qalyubi, Syihabuddin, dkk. 2007. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Yogyakarta : Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Yogyakarta.

Supriyanto, dkk, 2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawanan, editor Kosam Rimbawa, Supriyanto. Jakarta : Pengurus Daerah-DKI Jakarta, Ikatan Pustakawan Indonesia bekerja sama dengan Sagung Seto.

Sutarno, NS, 2006. Perpustakaan dan Masyarakat, Jakarta : Sagung Seto.

TANTANGAN ORGANISASI KEPUSTAKAWANAN

April 22nd, 2008

A. Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dewasa ini menjanjikan kemudahan dalam manajemen pengetahuan (knowledge management) terutama bagi lembaga dalam bidang pengelolaan informasi secara elektronis termasuk perpustakaan. Perpustakaan sebagai lembaga yang bertugas menyimpan, mengolah dan mendistribusikan informasi dituntut agar mampu memberdayakan pengetahuan dengan menggali potensi yang dimiliki perpustakaan.
Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (information provider) harus berjalan seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan informasi penggunanya. Bila dahulu fungsi perpustakaan lebih berkonsentrasi pada penyediaan informasi dalam bentuk fisik seperti dokumen tercetak dengan dilengkapi sistem katalog kartu, maka kini dengan berkembangnya teknologi informasi perpustakaan dituntut menyediakan sumber-sumber informasi dalam bentuk elektronik yang sarat dengan pengetahuan tak terstruktur.
Di era global saat ini dimana informasi membludak, profesi pustakawan terus menjadi sorotan. Profesi pustakawan diharapakan mampu mengelola banjir informasi yang berdampak luas pada masyarakat. Pustakawan dituntut sebagai subyek yang dapat memberdayakan pengetahuan (knowledge enabler) dengan mengeksplorasi konsep manajemen pengetahuan untuk diterapkan dilingkungan perpustakaan.

B. Organisasi Profesi Pustakawan
Organisasi pustakawan didirikan di Ciawi, Bogor pada tanggal 6 Juli 1973 untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya yang kemudian disebut Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). IPI berlandaskan pada Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. IPI berdiri atas dorongan rasa tanggung jawab bersama dalam usaha mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia.
Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) bertujuan meningkatkan profesionalisme pustakawan, mengembangkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi, mengabdikan dan mengamalkan, serta mengamalkan tenaga dan keahlian pustakawan untuk bangsa dan negara republik Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut IPI melakukan berbagai kegiatan, diantaranya :
1. Mengadakan dan ikut serta dalam berbagai kegiatan ilmiah khususnya di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
2. Mengusahakan keikutsertaan IPI dalam melaksanakan program pemerintah dan pembangunan nasional di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
3. Menerbitkan pustaka dan/atau mempublikasikan pustaka dibidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
4. Membina forum komunikasi antar pustakawan dan kelembagaan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

C. Tantangan Organisasi Kepustakawanan
Dalam konteks organisasi profesi khususnya Profesi Pustakawan Indonesia (IPI), organisasi profesi yang baik adalah suatu organisasi profesi yang dapat menunjukkan atau mempunyai kapasitas untuk dapat berbagi pengalaman bersama, ditandai dengan menjunjung tinggi moral dan etika profesi. Suatu profesi tidak akan berkembang, apabila kita tidak dapat menempatkan jati diri kita di tengah-tengah masyarakat yang cukup dinamis dalam era informasi dewasa ini. Hal ini merupakan tantangan yang luar biasa yang dihadapi oleh para pustakawan Indonesia saat ini.
Banyak tantangan yang harus di hadapi para pustakawan di Indonesia, baik itu yang datangnya dari internal maupun eksternal.
Tantangan dari internal, diantaranya :
1. Masih banyak pustakawan belum memahami tujuan organisasi profesinya.
2. Masih banyak pustakawan yang merasa belum punya kebanggaan menjadi seorang pustakawan.
3. Masih ragu-ragunya pustakawan masuk organisasi kepustakawanan.
4. Minat baca dikalangan pustakawan sendiri masih belum memadai, apalagi minat masyarakat pada umumnya yang masih rendah.
Selain dari faktor internal diatas, Era Global telah merambah dan melanda semua orang tidak terkecuali pustakawan. Era global membuka mata hati bahwa didalam kehidupan ini kita perlu orang lain dimanapun tanpa mengenal batas. Perkembangan teknologi informasi seperti internet juga telah mempengaruhi dan mengubah kehidupan secara drastis. Internet sudah menjadi suatu media pilihan untuk mendapatkan informasi aktual dan faktual. Walaupun Internet bukanlah satu-satunya pilihan, namun sudah menjadi harapan utama untuk mendapatkan informasi aktual.
Hal inilah yang juga menjadi tantangan dilihat dari lingkup eksternal, diantaranya :
1. Masuknya tenaga Malaysia dan Negara lain di Indonesia, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan bahasa Inggris dan ketrampilam khusus.
2. Pada lingkungan pekerjaan bahasa Inggris akan lebih dominan dibanding bahasa Indonesia.
3. Lapangan pekerjaan akan melimpah ruah bagi orang-orang yang memiliki kualifikasi dan kemampuan kerja tinggi, mampu berkomunikasi secara internasional dan mempunyai wawasan luas.
4. Tidak akan berkembangnya orang yang buta komputer atau buta bahasa Inggris.
Menghadapi riuh rendah dan carut-marutnya kehidupan yang terus berpacu dengan perkembangan teknologi di era global, maka pustakawan harus menghadapi kenyataan tersebut. Untuk mengatasinya, pustakawan sebagai profesi harus memiliki beberapa ketrampilan, antara lain :
1. Adaptability
Pustakawan hendaknya mampu cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang. Mereka tidak selayaknya mempertahankan paradigma lama yang sudah bergeser nilainya. Pustakawan sebaiknya mampu beradaptasi dalam memanfaatkan teknologi informasi.
2. People skills (soft skills)
Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pengguna. Mereka harus lihai berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan penggunannya.
3. Berpikir positif
Pustakawan diharapkan mampu berpikir positif dan tidak pesimistis.
4. Personal Added Value
Pustakawan tidak lagi lihai dalam mengatalog, mengindeks, mengadakan bahan pustaka dan pekerjaan rutin lainnya, tetapi di era global ini pustakawan harus mempunyai nilai tambahnya. Misalnya piawai sebagai navigator unggul.
5. Team Work
Di dalam era global yang ditandai dengan ampuhnya Internet dan membludaknya informasi, pustakawan seharusnya tidak lagi bekerja sendiri. Mereka harus membentuk team kerja untuk bekerjasama mengelola informasi. Sehingga diharapkan tekanan di era industri informasi dapat dipecahkan.
Dari beberapa ketrampilan di atas diharapkan pustakawan akan terus berkembang menjalankan tugasnya seiring dengan perubahan jaman yang begitu cepat. Profesionalisme pustakawan akan lebih mendarah daging dan menjiwai setiap aktivitasnya.
Disamping itu IPI sebagai organisasi profesi kepustakawanan mampu menghadapi perubahan tentunya. Hal inilah maka IPI dituntut untuk :
1. Mampu merespons arus globalisasi yang disamping menyodorkan kesempatan dan tantangan tapi juga memberi ancaman. Dengan lima ketrampilan di atas diharapkan IPI sebagai wadah pustakawan dapat terus berkembang sesuai dengan programnya.
2. Mampu menunjang kelancaran otonomi daerah. IPI harus mampu memberdayakan, dalam arti membuat masyarakat mampu bersaing di era global yang penuh persaingan ini. Untuk itu IPI harus mulai menggarap pustakawan-pustakawan desa agar mereka handal dan tangguh melalui training atau pelatihan- pelatihan yang efektif serta aplikatif.
3. Dalam setiap kegiatan hendaknya IPI bersinergi dengan asosiasi atau institusi lain, misalnya FPPTI, FKP2T dan sebagainya, agar gregetnya terasa lebih menggigit.

D. Penutup
Manajemen pengetahuan menjajikan suatu perubahan yang berfokus pada pengembangan dan penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas suatu organisasi. Manajemen pengetahuan menawarkan suatu peluang bagi pustakawan untuk menjadikan diri mereka relevan terhadap tuntutan jaman.
Era global dan era Internet telah menantang profesionalisme pustakawan. Tantangan tersebut bukanlah hal yang menakutkan, tetapi justru menjadi peluang emas bagi pustakawan untuk bergerak maju meretas batas. Dengan beberapa ketrampilan di atas diharapkan pustakawan demikian juga wadahnya IPI, akan lebih eksis dan berjuang sesuai dengan program kerjanya.
Untuk mengangkat citra pustakawan sejajar dengan profesi lainnya seperti dokter, dosen dan profesi lainnya memang tidak ringan, tetapi tetap harus tetap diperjuangkan. Ini merupakan salah satu bagian dari tanggung jawab organisasi IPI. Sampai saat ini sudah cukup banyak andil organisasi dalam ikut serta memajukan dan mencerdaskan bangsa, namun tetap dituntut untuk selalu berkembang seiring dengan perkembangan peradaban, teknologi dan informasi serta globalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad. 2001. Profesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Pusat XI Ikatan Pustakawan Indonesia XI dan Seminar Ilmiah, Tanggal 5 - 7 November 2001 di Jakarta.

Adhisupo, Mulyadi. 2007. Tantangan Organisasi Kepustakawan. Disampaikan pada kuliah Isu-isu Mutakhir Perpustakaan dan informasi, Tanggal 24 September 2007 di Jurusan MIP UGM, Yogyakarta.

Siregar, Ahmad Ridwan. 2005. Manajemen Pengetahuan Perspektif Pustakawan. Disampaikan dalam Seminar Ilmiah Nasional IPI di PekanBaru Riau, 31 Mei – 3 Juni 2005.

PROGRAM PUBLIC RELATIONS UNTUK MENGATASI PENURUNAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN

April 15th, 2008

Produktivitas kerja merupakan suatu hasil kerja dari seorang karyawan, namun seringkali terjadi produktivitas kerja karyawan menurun. Permasalahan tentang produktivitas kerja ini merupakan permasalahan umum yang sering terjadi pada setiap perusahaan dan bila tidak diatasi dengan baik maka akan berdampak buruk terhadap perusahaan.
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya penurunan produktivitas kerja, namun yang sering terjadi adalah penurunan produktivitas disebabkan kecemburuan sosial sebagian karyawan, hal tersebut bermula dari proses evaluasi perusahaan pada karyawannya, yang seringkali kurang akurat dalam melakukan penilaian kerja. Penilaian seringkali bersifat subjektif yang terkadang penilaian kerja terhadap sebagian karyawan tinggi, namun kenyataannya bertolak belakang dari kinerja keseharian karyawan tersebut sehari-hari yang cenderung rendah. Hal inilah yang mengakibatkan kecemburuan sosial sebagian karyawan lainya dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja karyawan tersebut, sehingga berdampak pada penurunan produktivitas kerja.
Dari permasalahan tersebut maka pihak Public Relations Officer (PRO) sebaiknya merencanakan beberapa program/ kegiatan agar permasalahan tersebut dapat terselesaikan, diantarannya :

A. Tindakan dan Komunikasi
1. Tindakan
• Merubah atau memperbaiki beberapa kebijakan.
Merubah atau memperbaiki beberapa kebijakan yang lebih memperhatikan kepentingan karyawan atau sesuai dengan keinginan karyawan, namun tanpa mengorbankan kepentingan perusahaan.
• Mengadakan inspeksi terhadap karyawan
Inspeksi dilakukan bukan untuk mencari kesalahan dan kekurangan karyawan/staf, tetapi lebih ditekankan untuk mengetahui apakan tugas sudah dilaksanakan dengan baik, sesuai dengan prosedur, berjalan sesuai dengan rencana.
• Mengadakan rapat atau pertemuan
Media ini merupakan sarana yang ampuh untuk mewujudkan kebersamaan dan keterbukaan, untuk menciptakan aksesabilitas dan akuntabilitas. Melalui forum rapat/pertemuan yang dilaksanakan secara rutin dapat dijadikan media penyampaian kebijakan pimpinan, penjelasan aplikasi teknologi baru, kesehatan/keselamatan kerja, penyampaian laporan keuangan, kesejahteraan/insentif/reward karyawan, menampung saran/masukan/kritik staf, dan sebagainya.
• Membentuk tim atau koordinator yang mewakili karyawan
Tim/koordinator/kelompok dibentuk dengan tujuan sebagai mediator antara karyawan pimpinan, sehingga proses komunikasi bisa terjalin dengan baik dan dapat memecahkan berbagai permasalahan yang terjadi.
• Mengadakan pemilihan karyawan yang berprestasi
Pemilihan karyawan berprestasi dilakukan untuk memberi motivasi kepada semua karyawan untuk selalu meningkatkan kinerja. Karyawan yang berprestasi harus diberi imbalan/reward yang seimbang, baik berupa materi maupun kenaikan jabatan/pangkat.
• Mengadakan rekreasi dan olah raga bersama
Rekreasi bersama dan kegiatan olah raga bersama dilakukan bertujuan sebagai untuk menjalin keakraban antar sesama karyawan.
• Anjangsana
Anjangsana dilakukan untuk lebih mengakrabkan karyawan, keluarga dan pimpinan, sehingga apabila ada persoalan-persoalan keluarga yang ada kaitannya dengan kantor lebih bisa dipahami. Anjangsana bukan untuk mengetahui rahasia keluarga, tetapi kalau ada masalah kelurga kantor bisa ikut membantu memberi solusi, karena pada dasarnya staf bukan hanya milik keluarga, tetapi milik kantor juga.
• Mengajak pihak terkait untuk melakukan tindakan
Mengajak pihak-pihak terkait yang memiliki otoritas tertinggi untuk membantu mengatur dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Tetapi melibatkan pihak ini adalah jalan terakhir, artinya baru akan dilaksanakan apabila pendekatan dengan metode-metode lain masih belum memberikan hasil.
2. Komunikasi
• Mengadakan Komunikasi Langsung
Komunikasi langsung adalah merupakan media PR yang paling efektif. Konumikasi dengan gaya dan logat yang mantap, penuh empati serta adanya keseimbangan antara bicara dan mendengarkan secara aktif akan ikut menentukan keberhasilan PR melalui komunikasi langsung.
• Mengoptimalkan fungsi kotak saran dan papan pengumuman
Kedua media ini adalah penting sebagai media komunikasi antara karyawan dengan pimpinan. Dan sebagai media penyampaian informasi.

B. Evaluasi dan Kontrol
Agar implementasi strategi berjalan dengan baik dan mendapatkan umpan balik dari proses implementasi kegiatan tersebut, maka kontrol menjadi sangat penting. Kontrol tersebut dilakukan dengan pemberian laporan tertulis dan berkala kepada pihak yang bertanggung jawab dan berwenang dalam mengendalikan implementasi strategi tersebut. Isi dari laporan tersebut biasanya tekandung laporan kemajuan (progress report), laporan perkembangan, laporan permasalahan, dan laporan pelaksanaan tugas.

Daftar Pustaka

Cultip, Scott M., Allen H. Center, dan Glen M. Broom, 2006. Effective Public Relations; alih bahasa, Tri Wibowo. Jakarta : Kencana.
Iriantara, Yosal, 2004. Manajemen Strategis Public Relations. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Putra, I Gusti Ngurah, 1999. Manajemen Hubungan Masyarakat. Yogyakarta : Universitas Atmajaya.

Hello world!

April 7th, 2008

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!