PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MINAT DAN BUDAYA BACA

A. Pendahuluan
Perpustakaan sebagai pusat informasi dengan masyarakat yang membutuhkan informasi ibarat dua sisi mata uang yang saling berhubungan yang tak dapat dipisahkan. Hal itu dapat terwujud manakala perpustakaan sudah siap melayani dengan sumber informasi yang memadai. Sementara masyarakat mampu atau mau memahami, menghayati, dan memaknai pentingnya informasi dalam kesehariannya.(Sutarno NS, 2006).
Perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya. Hal tersebut telah ada sejak dulu dan terus berproses secara alamiah menuju kepada suatu kondisi dan tingkat perbaikan yang signifikan meskipun belum memuaskan semua pihak.
Kini, bagi sebagian besar masyarakat, perpustakaan merupakan bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi di dalam kehidupannya, terutama masyarakat pelajar, mahasiswa dan kelompok-kelompok tertentu untuk menunjang aktifitasnya. Dengan kata lain perpusakaan sudah memasyarakat. Namun kita juga harus menyadari sebagian masyarakat yang lain belum mendapatkan fasilitas dan layanan perpustakaan sebagaimana mestinya. Hal itu merupakan peringatan bagi semua pihak untuk segera membenahi, dan mengembangkan perpustakaan. Maksudnya agar dapat memenuhi tugas dan fungsinya sebagai salah satu pusat informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa, meliputi kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan personal, kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial.
Perpustakaan pada prinsipnya mempunyai tiga kegiatan pokok, yaitu Pertama, mengumpulkan (to collect) semua informasi yang sesuai dengan bidang kegiatan dan misi organisasi dan masyarakat yang dilayaninya. Kedua, melestarikan, memelihara, dan merawat seluruh koleksi perpustakaan, agar tetap dalam keadaan baik, utuh, layak pakai, dan tidak lekas rusak baik karena pamakaian maupun karena usianya (to preserve). Ketiga, menyediakan dan menyajikan informasi untuk siap dipergunakan dan diberdayakan (to make available) seluruh koleksi yang dihimpun perpustakaan untuk dipergunakan pemakainya. (Ensiklopedia Americana dalam Sutarno NS, 2006). Namun disamping kegiatan-kegiatan tersebut, penyelengaraan perpustakaan tentu mempunyai maksud-maksud dan tujuan tertentu yang ingin dicapai.
1. Maksud Penyelenggaraan Perpustakaan, menurut Ibrahim Bafadal (2002):
a. Sebagai salah satu pusat informasi, sumber belajar, penelitian serta kegiatan ilmiah lainnya. Memberikan layanan kepada pemakai, seperti membaca, meminjam, meneliti dengan cara cepat, tepat, mudah dan murah.
b. Sebagai tempat mengolah atau memproses semua bahan pustaka dengan metode atau sistem tertentu sebagai registrasi, klasifikasi, katalogisasi dan kelengkapan lainnya, baik secara manual maupun menggunakan sarana teknologi informasi.
c. Merupakan agen perubahan dan agen kebudayaan dari masa lalu, sekarang dan masa depan.
2. Tujuan Perpustakaan
Sesuai dengan maksud-maksud tersebut diatas, maka tujuan perpustakaan adalah untuk menyediakan fasilitas dan sumber informasi dan menjadi pusat pembelajaran. Secara tidak langsung menciptakan masyarakat yang terdidik, terpelajar, terbiasa membaca dan berbudaya tinggi.
Dalam kehidupan modern yang ditandai dengan perkembangan dan persebaran informasi yang begitu cepat, dan di dalamnya terdapat peran perpustakaan secara signifikan. Dalam tulisan ini akan mencoba menguraikan secara singkat apa yang dimaksud dengan minat dan budaya baca, serta peran perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat dan budaya baca.

B. Minat, Kebiasaan dan Budaya Baca
Minat, Kebiasaan dan Budaya Baca, ketiga istilah ini merupakan kata-kata yang mengandung pengertian yang saling berhubungan. Minat seseorang terhadap sesuatu adalah kecenderungan hati yang tinggi, gairah atau keinginan seseorang terhadap sesuatu. Minat baca seseorang dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi orang tersebut kepada sumber bacaan tertentu. Sedangkan budaya adalah pikiran atau akal budi yang tercermin di dalam pola pikir, sikap, ucapan dan tindakan seseorang didalam hidupnya. Budaya diawali dari sesuatu yang sering atau biasa dilakukan sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan atau budaya. Budaya baca seseoang adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seorang yang mempunyai budaya baca adalah bahwa orang tersebut telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca. (Sutarno NS, 2006).
Faktor yang menjadi pendorong atas bangkitnya minat baca ialah ketertarikan, kegemaran dan hobi membaca, dan pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca. Berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersediannya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai, baik jenis, jumlah maupun mutunya. Inilah sebuah formula yang secara ringkas untuk mengembangkan minat dan budaya baca. Dari rumusan konsepsi tersebut tersirat tentang perlunya minat baca itu dibangkitkan sejak usia dini (kanak-kanak).
Minat baca yang mulai dikembangkan pada usia dini dan berlangsung secara teratur akan tumbuh menjadi kebiasaan membaca. Sementara itu kebiasaan membaca selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi berkembangnya budaya baca. Suburnya dan terpupuknya perkembangan kebiasaan dan budaya baca tentu sangat tergantung pada sejumlah faktor. Faktor-faktor tersebut seperti tersedianya bahan bacaan yang memadai, bervariasi, dan mudah ditemukan, serta dapat memenuhi keinginan pembacanya. Kita baru bisa bicara tentang budaya baca apabila membaca sudah terasa sebagai kebutuhan dan menjadi kebiasaan untuk dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, tanpa tersedianya bahan bacaan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi atau dipuaskan, dan mungkin saja kebiasaan membaca tersebut tentu akan menyusut. Kebiasaan membaca tersebut mudah dipengaruhi oleh kebiasaan menonton melalui media elektronik yang sajiannya bersifat audio visual. Sehubungan dengan minat, kebiasaan dan budaya baca tersebut, paling tidak ada tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu :
Pertama, dimulai dengan adanya kegemaran karena tertarik bahwa buku-buku tersebut dikemas dengan menarik, baik disain, gambar, bentuk dan ukurannya. Didalam bacaan tertentu terdapat sesuatu yang menyenangkan diri pembacanya.
Kedua, setelah kegemaran tersebut dipenuhi dengan ketersediaan bahan dan sumber bacaan yang sesuai dengan selera, ialah terwujudnya kebiasaan membaca. Kebiasaan itu dapat terwujud manakala sering dilakukan, baik atas bimbingan orangtua, guru atau lingkungan disekitarnya yang kondusif, maupun atas keinginan anak tersebut.
Ketiga, jika kebiasaan membaca itu dapat terus dipelihara, tanpa “gangguan� media elektronik, yang bersifat “entertainment�, dan tanpa membutuhkan keaktifan fungsi mental. Oleh karena seorang pembaca terlibat secara konstruktif dalam menyerap dan memahami bacaan, maka tahap selanjutnya ialah bahwa membaca menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Setelah tahap-tahap tersebut dapat dilalui dengan baik, maka pada diri seseorang tersebut mulai terbentuk adanya suatu budaya baca.

Ketika diamati dengan cermat ada beberapa faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah :
(1) Rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan dan informasi.
(2) Keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam arti tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas dan beragam.
(3) Keadaan lingkungan sosial yang lebih kondusif, maksudnya adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membasa.
(4) Rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang actual.
(5) Berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.
Faktor-faktor tersebut dapat terpelihara melaui sikap-sikap, bahwa dalam diri tertanam komitmen membaca memperoleh keuntungan ilmu pengetahuan, wawasan/pengalaman dan kearifan. Sehingga terwujudnya kondisi yang mendukung terpeliharanya minat baca, adanya tantangan dan motivasi untuk membaca, serta tersedianya waktu untuk membaca, baik di rumah, perpustakaan ataupun ditempat lain. (Buletin Pusat Perbukuan, vol. 5, 2001).
Dalam masyarakat kita yang telah berkembang adalah budaya tutur atau lisan, maka masih membutuhkan tekad dan semangat untuk mengubah menjadi budaya baca-tulis. Namun yang paling penting adalah bahwa hal itu seharusnya dimulai dengan tindakan nyata, tidak terbatas wacana atau discourses.
Kita selalu menyatakan mengutamakan ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mempersoalkan sejauhmana minat baca telah berkembang, dan membahas upaya bagaimana masyarakat mengembangkan berbudaya baca. Sudah banyak waktu, energi, perhatian dan modal yang dikeluarkan. Namun segalanya itu tidak mungkin terlepas dari kenyataan sebagai pijakan untuk mengambil langkah-langkah kongkret lebih lanjut. Kelihatannya budaya baca baru menggejala di kalangan sangat terbatas didalam masyarakat kita, sehingga membaca buku terkesan merupakan “privilese� bagi kalangan tertentu. Sementara semua orang menyadari bahwa meningkatnya arus informasi secara kualitatif dan kuantitatif dewasa ini. Perbedaan kesempatan untuk memperoleh informasi dapat berakibat kesenjangan yang membedakan masyarakat menjadi dua golongan, yaitu antara warga yang diuntungkan oleh kemudahan dan keluasan akses terhadap informasi, dan mereka yang dirugikan karena sangat terbatas akses itu. Kesenjangan atau ketimpangan tersebut sebagai konsekuensi atas perbedaan akses mendapatkan informasi akan merupakan beban yang amat menghambat kemajuan masyarakat yang bersangkutan. Oleh sebab itu kesungguhan kita untuk membangun mesyarakat yang berbudaya baca mestinya ditunjang oleh meningkatnya ketersediaan bahan bacaan yang memadai, makin efektif dan efisiennya fungsi perpustakaan. Perpustakaan merupakan media antara sumber informasi dan masyarakat semestinya dibenahi dan diberdayakan secara optimal. Komitmen untuk hal itu mungkin sudah terumuskan dalam berbagai slogan dan kebijakan publik, tetapi realisasinya belum sepenuhnya dapat diwujudkan.

C. Perkembangan Jenis Perpustakaan
Setiap perpustakaan memiliki sejarah yang berbeda-beda. Karena sejarahnya yang berbeda-beda itu, setiap perpustakaan mempunyai tujuan, anggota, organisasi, dan kegiatan yang berlainan. Perbedaan tujuan, organisasi induk, anggota dan kegiatan akan berpengaruh pada timbulnya berbagai jenis perpustakaan.
Menurut Qalyubi, dkk (2007) Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya berbagai jenis perpustakaan adalah sebagai berikut :
1. Munculnya berbagai jenis media informasi, seperti media tercetak (buku, majalah, laporan, surat kabar) dan media grafis/elektronik, seperti film, foto, microfilm dan video. Berbagai perpustakaan menunjukkan tanggapan yang berbeda-beda terhadap berbagai jenis bahan pustaka. Beragamnya tanggapan yang berbeda-beda itulah yang menimbulkan berbagai jenis perpustakaan.
2. Tanggapan terhadap keperluan informasi dari berbagai kelompok pembaca. Dalam masyarakat terdapat berbagai kelompok pembaca, misalnya anak dibawah lima tahun, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, remaja putus sekolah, dan yang lain. Karena kebutuhan bahan bacaan yang berbeda, tumbuhlah perpustakaan yang mengkhususkan diri untuk kelompok pembaca tertentu.
3. Tanggapan yang berlainan terhadap spesialisasi subjek, termasuk ruang lingkup subjek serta rincian subjek yang bersangkutan. Dalam kenyataan sehari-hari, pembaca mempunyai minat serta keperluan informasi yang berbeda derajat kedalamannya walaupun subjeknya sama. Karena kebutuhan informasi mengenai suatu subjek yang berbeda-beda intensitas intelektualnya, tumbuh berbagai jenis perpustakaan dengan koleksi yang sesuai dengan keperluan dan tingkat intelektualitas pembaca.
4. Adanya ledakan informasi, yakni pertumbuhan literatur yang cepat dan sangat banyak sehingga tidak memungkinkan sebuah perpustakaan memiliki semuanya. Disamping itu pertumbuhan subjek ilmu pengetahuan, artinya bahwa sering terjadi fusi berbagai subjek menjadi satu atau sebaliknya suatu subjek memunculkan subjek lain.
Perbedaan tujuan, misi yang diemban, dan berbagai sebab seperti tersebut diatas, menyebabkan munculnya pengelompokan perpustakaan seperti diantaranya perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan khusus. Namun dalam tulisan ini hanya akan membahas secara singkat peran perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat baca.

D. Peran Perpustakaan Sekolah dalam Meningkatkan Minat Baca
Dasar pembentukan perpustakaan sekolah di Indonesia adalah Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.2 Tahun 1989, yang isinya menyatakan bahwa setiap sekolah harus menyediakan sumber belajar (perpustakaan). Perpustakaan merupakan unit pelayanan di dalam lembaga yang kehadirannya hanya dapat dibenarkan jika mampu membantu pencapaian pengembangan tujuan-tujuan sekolah yang bersangkutan. Penekanan tujuan keberadaan perpustakaan sekolah adalah pada aspek edukatif dan rekreatif (kultural).
Perpustakaan sekolah tidak boleh menyimpang dari tugas dan tujuan sekolah sebagai lembaga induknya. Sehingga beberapa fungsi perpustakaan sekolah menurut Qalyubi, dkk.(2007), adalah sebagai berikut :
1. Sebagai sumber kegiatan belajar mengajar. Perpustakaan sekolah berfungsi membantu program pendidikan dan pengajaran sesuai dengan tujuan yang terdapat di dalam kurikulum. Mengembangkan kemampuan anak menggunakan sumber sumber informasi. Bagi guru, perpustakaan sekolah merupakan tempat untuk membantu guru mengajar dan tempat untuk memperkaya pengetahuan.
2. Membantu peserta didik memperjelas dan memperluas pengetahuan pada setiap bidang studi. Keberadaan dan tujuan perpustakaan sekolah harus terintegrasi dengan seluruh kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah dapat dijadikan sebagai laboratorium ringan yang sesuai dengan tujuan yang terdapat di dalam kurikulum.
3. Mengembangkan minat dan budaya membaca yang menuju kebiasaan belajar mandiri.
4. Membantu anak untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemarannya.
5. Membiasakan anak untuk mencari informasi di perpustakaan, kemahiran anak mencari informasi di perpustakaan akan menolong untuk belajar mandiri dan memperlancar dalam mengikuti pelajaran selanjutnya.
6. Perpustakaan sekolah merupakan tempat memperoleh bahan rekreasi sehat melalui buku-buku bacaan yang sesuai dengan umur tingkat kecerdasan anak.
7. Perpustakaan sekolah memperluas kesempatan belajar bagi peserta didik.
Berdasarkan fungsi-fungsi diatas, sudah jelas bahwa perpustakaan sekolah ikut berperan dalam membantu meningkatkan minat dan budaya baca, walaupun keberadaan perpustakaan sekolah sampai pada saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan, bukan saja pada segi fisiknya (gedung dan ruangan), tetapi juga dari segi sistem pengelolaannya, sumber daya manusia, koleksi, dan alat/perlengkapan fisik lainnya.
Hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Bidang Perpustakaan sekolah, Pusat Pembinaan Diknas terhadap keberadaan perpustakaan sekolah, menunjukan hal-hal sebagai berikut :
a. Banyak sekolah yang belum menyelenggarakan perpustakaan.
b. Perpustakaan sekolah yang ada kebanyakan belum menyelenggarakan layanan secara baik, kurang membantu proses belajar mengajar, dan sering berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku (gudang) belaka.
c. Ada sejumlah kecil perpustakaan sekolah yang kondisinya cukup baik, tetapi belum terintegrasi dengan kegiatan belajar mengajar.
d. Keberadaan dan kegiatan perpustakaan sekolah sangat bergantung pada sikap kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan dalam segala hal.
e. Kebanyakan perpustakaan sekolah tidak memiliki pustakawan (tenaga pengelola tetap), sering hanya dikelola oleh seorang guru yang setiap saat dapat dimutasikan.
f. Pekerjaan di perpustakaan dianggap kurang terhormat sehingga kurang disukai, dan bahkan dianggap sebagai pekerja kelas dua. Oleh karena itu, ada perpustakaan yang pengelolanya diserahkan kepada petugas tata usaha sebagai tugas sampingan.
g. Koleksi perpustakaan sekolah umumnya tidak bermutu dan belum terarah sesuai dengan tujuannya.
h. Layanan perpustakaan sekolah belum dilaksanakan dengan baik karena kurangnya SDM yang terdidik dalam bidang perpustakaan.
i. Dana yang dialokasikan untuk pembinaan dan pengembangan perpustakaan sangat terbatas.
j. Banyak sekolah yang tidak mempunyai ruangan khusus untuk perpustakaan.
Dilihat dari aspek koleksinya, banyak perpustakaan sekolah yang hanya memiliki buku paket bidang studi, yang merupakan buku ajar atau buku teks yang dipakai dalam pengajaran. Koleksi lain yang berorientasi pada aspek rekreatif (kultural) sangat kurang, bahkan sering tidak ada. Padahal, koleksi penunjang seperti buku-buku fiksi sangat penting, khususnya untuk meningkatkan daya imajinasi dan menumbuhkan motivasi membaca.
Ironisnya lagi, ada sementara dari kalangan pendidik (guru) yang masih berpendapat bahwa tanpa perpustakaan sekolah, proses belajar dan mengajar berjalan lancar. Mereka kurang berupaya agar anak didik mempunyai budaya baca sehingga dapat memperlancar dan mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang. Banyak di kalangan guru yang hanya mengejar aspek nilai normatif pada setiap bidang studi yang diajarkan. Jika hal-hal seperti itu dipertahankan, jaminan peningkatan hasil pendidikan di kalangan sekolah masih sulit diharapkan.

E. Kesimpulan
Dari uraian-uraian tersebut diatas, jelaslah bahwa perpustakaan sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan minat dan budaya baca, yang pada gilirannya nanti akan mampu meningkatkan sumber daya manusia yang tangguh.
Kiranya tepatlah kalau hal tersebut dihubungkan dengan pengetian perpustakaan sebagaimana dikehendaki menurut Keputusan Presiden RI No.11 Tahun 1989 (Supriyanto, 2006), bahwa perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestari bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional.

Daftar Pustaka

Bafadal, Ibrahim, 1996. Pengelolaan Perpustaaan Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara.

Buletin Pusat Perbukuan, vol. 5, 2001. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Qalyubi, Syihabuddin, dkk. 2007. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Yogyakarta : Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Yogyakarta.

Supriyanto, dkk, 2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawanan, editor Kosam Rimbawa, Supriyanto. Jakarta : Pengurus Daerah-DKI Jakarta, Ikatan Pustakawan Indonesia bekerja sama dengan Sagung Seto.

Sutarno, NS, 2006. Perpustakaan dan Masyarakat, Jakarta : Sagung Seto.

Leave a Reply